Senin, 17 Januari 2022

MENYIKAPI BEBAN HIDUP

Seekor kuda terperosok ke dalam sumur yang sudah kering. Karena sudah tidak mungkin menolong kuda tersebut, maka orang-orang di kampung memutuskan untuk menutup sumur itu. Mereka ingin mengubur kuda itu hidup-hidup supaya bangkainya tidak mengganggu dan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


Merekapun bergotong royong mengangkut tanah dan memasukkannya ke dalam sumur. Lalu, apa yang terjadi?

Setiap ada tanah yang mengena punggungnya, kuda itu selalu membuangnya ke bawah lalu memindahkan kakinya ke atas tanah tersebut.

Semakin tinggi tanah menutupi sumur, maka semakin tinggi pula posisi kuda itu. Sehingga akhirnya ia bisa keluar dari sumur dengan selamat.

Pesan Moral ke 1:
Begitulah gambaran kita dalam hidup ini. Ketika perjalanan hidup melemparkan beban dan masalah ke punggung kita, maka kesampingkanlah lalu berdirilah dengan kokoh di atasnya, maka suatu saat nanti semua itu akan menaikkan posisi kita ke puncak.

Pesan Moral ke 2:
Ketika orang-orang meremehkan kita, menghina kita, bahkan berusaha menjatuhkan kita dan mencelakai kita. Justru upaya itu berbalik memberi keberuntungan kepada untuk kita manakala kita terus berjuang, bertahan & pantang menyerah.

Allah swt sangat mencintai orang orang yang tak mudah putus asa. 

CARA MEMANDANG NASIB

Dahulu kala, ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah. Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dan menawarkan harga yang sangat tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejek karena dia tidak menjual kudanya.


Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandang nya. Maka teman-temannya berkata: "Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kamu jual, kamu kaya, sekarang kudamu sudah hilang". Si petani miskin hanya diam saja tanpa komentar.

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali, bersama 5 ekor kuda liar lainnya. Lalu teman-temannya berkata : "Wah! Beruntung sekali nasibmu, ternyata perginya kudamu membawa keberuntungan". Si petani tetap hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru yang datang bersama kudanya yang kembali, terjatuh dan kakinya patah. Teman-temannya berkata: "Rupanya kuda-kuda itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah". Si petani tetap diam tanpa komentar.

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan.
Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis: "Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-anak kami".

Si petani kemudian berkomentar:
"Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Semuanya adalah suatu rangkaian proses yang belum selesai.

Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. Tetapi yang pasti, Allah paling tahu yang terbaik buat kita. Bagian kita adalah, mengucapkan syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam hidup kita ini. Jalan yang dibentangkan Allah belum tentu yang tercepat, bukan pula yang termudah. Tapi sudah pasti yang terbaik!

MENOLAK ADU DOMBA

Seseorang mendatangi Khalid bin Walid ra dan berkata: "Seseorang telah menghinamu". Khalid menjawab: "Itu adalah lembaran hidupnya sendiri, terserah dia mau mengisinya".


Seseorang datang kepada Wahb bin Munabbih dan berkata: "Seseorang telah menghinamu". Wahb menjawab: "Apakah setan punya utusan selain kamu?"

Seseorang berkata kepada orang bijak: "Seseorang telah menghinamu". Orang bijak itu menjawab: " Dia telah melempar anak panah kepadaku tapi tidak mengenaiku tapi mengapa engkau membawa anak panah itu dan menusukkannya ke jantungku?

Seseorang datang kepada Imam Syafi'i dan berkata: "Seseorang telah menghinamu". Imam Syafi'i menjawab: "Apabila engkau jujur maka engkau pengadu domba, tapi jika engkau dusta maka engkau fasik." Maka dia pun malu dan pergi.

Semoga Allah menjaga kita dari syak wasangka dan adu domba.

KISAH RUBAH DAN UNTA

Seekor rubah bertanya kepada seekor unta yang berdiri di seberang sungai: "Unta, apakah sungai ini dalam?". "Tidak." jawab Unta. "Seberapa dalam?" tanya Rubah lebih lanjut. "Selutut saja". Jawab Unta singkat.


Rubah pun tanpa ragu mulai menyeberangi sungai. Namun betapa terkejutnya Rubah merasakan dalamnya sungai tersebut. Dia dengan susah payah mempertahankan agar kepalanya tetap di atas air dan hampir saja tenggelam sehingga ia menemukan bongkahan batu di tengah sungai. Dari atas batu itu rubah berteriak kepada unta: "Unta, kau bohong. Kau bilang sungai ini hanya sebatas lutut. Tapi ternyata hampir menenggelamkanku?" teriak Rubah. Unta menjawab: "Memang hanya sebatas lututku, tidak sapai leherku".

____

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa pada umumnya setiap orang yang kita mintai pendapat dan bimbingan selalu akan memberikan pendapat-pendapatnya sesuai dengan pengalaman pribadinya. Seyogyanya kita perlu memilih kepada siapa kita meminta arahan dan bimbingan sebagaimana perlunya kita untuk menimbang-nimbang apakah arahan tersebut cocok untuk kita atau justru dapat menenggelamkan kita...

DUA HAL YANG MENGHINDARKAN DARI AZAB ALLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa sebagian dari musibah merupakan azab (siksa dunia) dari Allah.


Sayyiduna Umar RA mengatakan: ada dua hal yg dapat menghindarkan kita dari azab Allah di dunia; yg pertama sudah diangkat (tidak ada lagi) dan tersisa yg kedua.

Yg pertama adalah kebaradaan Rasulullah saw. Allah tidak akan menurunkan siksa duniawi, sementara Nabi saw berada di tengah-tengah mereka, dengan harapan mereka menyambut seruan Nabi. Firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ

Dan tidaklah Allah mengazab mereka sedangkan engkau (Muhammad) ada di antara mereka.

Yang kedua karena kita beristighfar (mohon ampunan Allah). Jadi Allah tidak akan menghukum orang-orang yang durhaka selama mereka memohon ampunan Allah. Firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah Allah mengazab mereka sedang mereka masih beristighfar.

_________

أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لاَ إلَهَ إلاَّ هُوَالحَيُّ القَيُّومُ وَأتُوبُ إلَيهِ

BELAJAR MENULIS DI ATAS PASIR

Alkisah, ada dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan mereka bertengkar, hingga salah seorang menampar temannya.

Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tanpa berkata-kata dia menulis di atas pasir:


“HARI INI SAHABATKU MENAMPAR PIPIKU”

Mereka melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi di situ.
Orang yang pipinya kena tampar hampir tenggelam karena ternyata oasisnya cukup dalam sedangkan ia tidak dapat berenang, ia berteriak “tolong-tolong”, temannya pun dengan sigap segera menolongnya. Ketika telah hilang rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu:

“HARI INI SAHABATKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”

Orang yangmenampar dan menolong sahabatnya tadi bertanya: “kenapa ketika aku melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir, dan ketika aku menolongmu kamu menulis di atas batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab: “ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Namun bila kebaikan datang dari seorang sahabat, kita harus memahatnya di atas batu, agar selalu teringat di dalam hati kita.”
_______
Dalam hidup ini sering terjadi perbedaan pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis di atas pasir!

اللهم ارزقنا الصحبه الصالحة 

Minggu, 16 Januari 2022

LOGIKA TAWAKKAL

Seorang ayah menyuruh anaknya untuk berusaha mencari pekerjaan supaya dapat belajar hidup mandiri. Sang anak memenuhi anjuran ayahnya. Dia pergi beberapa waktu kemudian kembali lagi. Ayahnya bertanya: "Kenapa kamu kembali lagi?"

Anak itu menjawab: "Ayah, aku duduk di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba aku melihat seekor gagak yang sedang sakit dan hampir mati. Aku bertanya dalam hati: Bagaimana burung ini mendapatkan makanan? Tiba-tiba datang seekor singa dengan buruan yang cukup besar. Singa itu memakan sebagian binatang buruannya. Setelah ia kenyang, ia pergi dengan meninggalkan sisa makanannya. Setelah itu burung gagak yang sudah sakit-sakitan tadi mendekati sisa bangkai itu dan memakannya. Dari sana aku yakin bahwa rezki setiap orang sudah ditanggung oleh Allah, oleh karena itu aku kembali lagi.”

Ketika itu berkatalah ayahnya: “Apakah engkau tidak suka kalau engkaulah singanya yang orang lain mencari makan dari sisamu, daripada menjadi gagak yang hanya mengharapkan belas kasihan orang!?”

KASIH SAYANG SI IBU TIKUS


Bisakah Anda merasakan seberapa besar kasih sayang si Ibu tikus dalam video ini?
Dia berjibaku melawan hujan dan berjuang mati-matian menyelamatkan anak-anaknya agar tidak mati tenggelam karena lubang sarangnya terendam air hujan.
Bayangkan berapa lama dia harus menahan nafas dalam air?
Bayangkan bagaimana resiko paru-parunya termasuki air saat masuk ke dalam lubang (ingat, tikus bernapas dengan paru-paru dan bisa mati jika ada air yang masuk ke dalam paru-paru sebagaimana manusia)?
Bayangkan bagaimana dia harus melawan rasa dingin dengan basah kuyup hilir mudik seraya diterpa angin dari lubang sarang menuju tempat yang dianggap lebih hangat?
Bayangkan bagaimana dia berani mengambil resiko mati karena diburu manusia saat memutuskan memberanikan diri menampakkan batang hidungnya di siang bolong sehingga mudah dilihat manusia?
Jika kita mulai bisa merasakan besarnya kasih sayang si Ibu Tikus itu terhadap anak-anaknya, maka ketahuilah sesungguhnya itu hanya seperjuta atau milyar atau bahkan trilun atau angka yang hanya Allah yang tahu jika dibandingkan dengan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman.
Sebab Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Allah itu punya 100 rahmat. 99 disimpan di akhirat, sementara yang satu dibagi-bagi untuk seluruh makhluk di dunia. Yang dbagi-bagi di dunia itu termasuk di antaranya kasih sayang ibu yang rela begadang berjam-jam menunggui anaknya yang sakit, kasih sayang ayah yang rela bekerja berangkat pagi pulang malam demi menafkahi anak-anaknya, kasih sayang Ibu Tikus untuk menyelamatkan anaknya agar tidak tenggelam di lubang sarang saat musim hujan, sampai seekor kuda yang mengangkat kakinya karena rasa sayangnya agar anaknya tidak terinjak. Rasulullah ﷺ bersabda,
«جَعَلَ اللهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ، حَتَّى ‌تَرْفَعَ ‌الْفَرَسُ ‌حَافِرَهَا ‌عَنْ ‌وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ.» صحيح البخاري» (8/ 8 ط السلطانية
Artinya,
"Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya." (H.R.al-Bukhari)
Jika sebesar ini rahmat Allah yang hendak diberikan kepada hambaNya yang beriman, masih adakah yang merasa dirinya terlalu bejat, lalu lalu punya pikiran,
“Ah, tidak mungkin Allah menerima aku lagi” atau
“Ah, dosaku terlalu banyak. Tidak mungkin taubatku diterima” atau
“Duh, mengapa diriku ini. Setiap kali berusaha menjadi baik, selalu saja terjatuh dalam kesalahan yang sama. Mungkinkah aku bisa berubah?” atau
“Udahlah, rusak-rusak sekalian aja. Calon penghuni neraka memang aku ini” atau
Atau kalimat-kalimat lain yang menunjukkan keputus asaan dari rahmat Allah?
Tidak.
Jangan begitu.
Sehancur, serusak dan sebejat apapun kita, maka rahmat Allah jauh lebih besar dan luas dari itu.
Allah menyambut hambaNya yang datang kepadaNya dengan penuh kegembiraan. Melebihi kegembiraan orang yang kehilangan sesuatu yang paling berharga darinya kemudian ketemu kembali.

*Ditulis oleh: Muafa